Tuesday, November 8, 2011

Utang, Bermanfaat atau Mencelakakan?

|
shutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com - “Selamat pagi Pak Fulan, saya ucapkan selamat ternyata nama Bapak masuk dalam daftar prioritas Bank kami untuk mendapatkan Kartu Kredit Platinum dengan syarat ringan saja. Plus bonus untuk Bapak, bebas iuran tahunannya untuk dua tahun pertama.” Tawaran yang menarik bukan? Saya yakin pembaca yang budiman sering mendapatkan tawaran seperti ini. Tahukah anda bahwa dibalik pernyataan yang menggiurkan itu ada perangkap yang disebut “UTANG”?

Utang berarti mengurangi daya beli kita dimasa yang akan datang. Kalau pengurangan daya beli tersebut bertambah terus (alias utangnya bertambah terus), alhasil kita akan kehilangan daya beli di kemudian hari. Hal tersebut sering disebut terjerat utang. Kita mendapatkan penghasilan hanya untuk menutupi utang-utang kita. Lantas bagaimana nasib beban finansial lainnya? Seperti kebutuhan pokok, uang sekolah anak, transport, listrik, telpon dan lain-lain?, mencari utang baru?, makin terpuruk dong.

Di sisi lain utang juga sebagai penolong, sering kita dihadapkan pada situasi, butuh dana segera sedangkan penghasilan kita saat itu tidak mencukupi. Tentu salah satu solusinya adalah berutang. Lantas bagaimana kita mengelolanya agar kita terhindar dari cengkraman utang. Dua pertanyaan berikut akan mengarahkan anda agar terhindar dari cengkraman utang. Apakah penghasilan saya mampu membayar pinjaman / kredit sesuai yang diperjanjikan dimasa yang akan datang?

Jebakan utang bermula pada saat kita tidak waspada akan kemampuan kita sendiri. Karena kemudahan akan meminjam atau mengambil kredit, membuat kita lupa akan kewajiban kita dikemudian hari untuk membayar cicilannya. Besar pasak daripada tiang merupakan ancaman serius kalau kita kurang waspada. Selalu sempatkan mengevaluasi dahulu kemampuan kita sebelum memutuskan untuk mengambil pinjaman atau kredit. Saya sarankan seluruh jumlah cicilan yang harus dibayar di bulan-bulan berikutnya tidak lebih dari 30 persen dari total penghasilan bulanan.

Apakah pinjaman / kredit didasarkan pada kebutuhan saya atau hanya keinginan saya? Sangat tipis memang perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Seorang teman mendefinisikan, untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan, harus dilihat dari segi fungsinya. Sesuatu dikatakan sebagai keinginan kalau sudah merupakan tambahan atas fungsi utamanya. Jadi kata kuncinya adalah pada fungsi.

Contoh sederhana, makan adalah kebutuhan yang tidak terelakan. Bukan cuma manusia, setiap makhluk hidup butuh yang namanya makan. Makan akan memberikan tenaga dan kesehatan bagi manusia, maka makan makanan yang bergizi adalah kebutuhan kita semua. Makanan memiliki fungsi utama sebagai sumber energi untuk tubuh. Sedangkan memberikan rasa enak adalah fungsi tambahan dari makanan. Maka makanan enak adalah keinginan, bukan kebutuhan. Tapi bukan berarti tidak boleh makan makanan yang enak-enak. Hanya saja kita perlu mempertimbangkan dulu apakah pengeluaran untuk makanan enak itu akan mengorbankan kebutuhan yang lain atau tidak.

Nah, serupa halnya dalam mengambil keputusan pengambilan pinjaman atau kredit. Karena kita akan mengorbankan daya beli kita dimasa yang akan datang, sebaiknya tekankan pinjaman atau kredit pada fungsi utamanya, sesuai kebutuhan kita. Bersabar dahulu atas keinginan kita untuk mendapatkan fungsi tambahannya.

Sebagai contoh, memiliki rumah sendiri adalah kebutuhan setiap orang. Selain manfaat untuk bernaung dan berlindung, memiliki rumah sendiri juga memberikan keuntungan pertambahan nilainya. Harga tanah biasanya tidak pernah menurun. Satu diantara cara untuk memiliki tempat tinggal adalah dengan Kredit Pemilikan Rumah memelalui Bank. Tinjau dulu kemampuan penghasilan kita untuk membayar cicilannya dan jangan lupa mempelajari persyaratan yang dikenakan oleh Bank tersebut. Sebagai nasabah kita memiliki kekuatan untuk tawar menawar dalam hal kondisi utang piutang, cara pembayaran dan penentuan suku bunga kreditnya. Dan jangan lupa untuk menekan keinginan yang berlebihan. Kalau masih tinggal sendiri, kita tidak membutuhkan 5 kamar tidur, bukan?

Kita tidak perlu takut untuk berutang selama kita waspada pada kemampuan dan kebutuhan atas manfaat dari utang tersebut. Akan menjadi mencelakakan bila kita lengah. Nah bagaimana halnya apabila anda terlanjur memiliki utang, dan ingin mengetahui apakah anda sudah masuk pada cengkraman utang atau belum?

Cocokkan perilaku anda terhadap kredit atau pinjaman dengan pernyataan-pernyataan berikut :

1. Selalu atau sering terlambat membayar tagihan anda.
2. Selalu atau sering kali melakukan pembayaran kartu kredit pada batas minimum.
3. Menggunakan kartu kredit untuk membeli barang-barang mewah.
4. Mencari pinjaman baru untuk menutupi utang lama.
5. Menarik nilai tunai dari polis asuransi anda.
6. Tidak memiliki saldo yang berarti dalam tabungan anda.
7. Meminjam uang dari teman anda.
8. Anda sangat berharap dan mengandalkan kenaikan gaji atau bonus dan lembur untuk membiayai kebutuhan bulanan anda.
9. Mengambil kredit untuk kendaraan dan peralatan rumah tangga pada Bank atau Institusi Finansial lainnya.
10. Sering menggunakan kartu kredit untuk menarik uang tunai.

Bila lebih dari 4 pernyataan diatas sesuai dengan perilaku anda saat ini, Anda sudah berada dalam masalah keuangan. Maka yang seharusnya anda lakukan adalah:

  • Tekan pengeluaran hingga menghasilkan surplus untuk dapat anda sisihkan.
  • Buat daftar prioritas pelunasan utang dibulan berikutnya dari surplus yang didapat.
  • Bila masih belum mencukupi, tingkatkan penghasilan Anda dengan bekerja lebih keras dan cerdas.

Semoga bermanfaat, dan bila masih tertarik lebih detail mengenai masalah financial akibat utang, tunggu sekuel ulasan kami bertemakan Bebas dari cengkraman Utang dalam waktu dekat. (Budi Cahyadi, MM, CFP®/Financial Planner, TGRM Financial Planning Services)

Apakah Penghasilan Saya sudah Ideal?

SHUTTERSTOCK

KOMPAS.com - "Waduh nak, nanti aja ya belinya ya.., sekarang lagi tanggung bulan ni..," Kalimat tersebut terkesan akrab di telinga kita. Ya, memang akrab bukan karena kita suka menggunakan kalimat itu namun kita terpaksa mengeluarkan kalimat tersebut. Hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa pemasukan atau gaji yang kita terima ternyata hanya mampu "menghidupi" kita selama 20 hari atau bahkan kurang dari itu dalam sebulan.

Ya, ini adalah fakta yang terjadi, sering kali kita merasa gaji belum cukup, masih kurang, jangankan untuk ditabung atau investasi, memenuhi keinginan kita saja masih kurang, ya sekali lagi masih kurang!.

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah berapa besar gaji yang wajar bagi kita? Pembaca yang bijak, untuk menjawabnya alangkah baiknya jika kita melakukan evaluasi dan introspeksi secara jujur, untuk itu silahkan untuk menjawab beberapa pertanyaan dibawah ini dan catatlah hasilnya:

1. Sudah berapa lamakah (tahun dan bulan) saya telah menerima gaji?;
2. Sudah berapa kali saya mengalami kenaikan gaji?;
3. Berapa rupiahkah saat pertama saya kita menerima gaji? Berapa rupiahkah besar gaji saya saat ini?;
4. Apakah saya selalu membayar cicilan utang setiap bulan?;
5. Adakah bagian dari gaji yang dapat disimpan untuk investasi?
6. Apakah saat ini saya mengalami defisit (gaji tidak dapat bertahan sampai akhir bulan)?, jika jawabnya ‘tidak’ maka kami ucapkan selamat namun jika jawabanya‘ya’ maka disinilah letak permasalahannya.

Bagi anda yang menjawab ‘ya’ maka langkah selanjutnya adalah lakukan valuasi penghasilan anda, dalam melakukan valuasi, jawabannya hanya ada tiga kelompok, yakni:

1. Tahapan yang buruk (Poor Income Valuation);
2. Tahapan yang wajar (Fair Income Valuation);
3. Tahapan yang ideal (Ideal Income Valuation). Nah berikut ini adalah penjelasan serta solusinya dari kelompok - kelompok tersebut :

Tahapan yang buruk (Poor Income Valuation): adalah tahapan dimana kondisi total pengeluaran lebih besar dari penghasilan atau dikenal dengan istilah "Besar Pasak dari Tiang", dalam kondisi ini arus kas menjadi defisit atau negatif disertai dengan bobot cicilan hutang perbulan diatas 45 persen dari total penghasilan. Perhatikan contoh berikut (tabel 1):

Tabel 1 uraian pengeluaran per bulan, mencakup:
• Besar penghasilan,
• Pengeluaran diluar cicilan utang,
• Cicilan utang tiap bulan,
• Surplus atau defisit penghasilan,
• Surplus atau defisit cicilan utang

No

Uraian per bulan

Besarnya

Bobot VS Pendapatan

1

Penghasilan Bersih (saat ini) Take home pay

Rp 8,000,000

86.49%

2

Pengeluaran (diluar cicilan utang)

Rp 5,000,000

54.05%

3

Cicilan utang

Rp 4,250,000

45.95%

4

Total pengeluaran = 2+3

Rp 9,250,000

100.00%

5

Surplus (defisit) pengeluaran = 1 – 4

Rp (1,250,000)

-13.51%

6

Surplus (defisit) cicilan utang = (1*30%) – 3

Rp (1,850,000)

-23.13%

Dalam contoh kasus diatas terlihat bahwa: 1. Pengeluaran (defisit) Rp 1.250.000. 2. Cicilan utang melebihi batas wajar maksimal per bulan yakni defisit Rp 1.850.000 atau berlebih sebesar 23,13 persen dari batas maksimal cicilan utang yakni 30 persen atau sebesar Rp 2.400.000.

Ini berarti bahwa, pada kasus tersebut, yang bersangkutan berpotensi untuk menutupi defisit (kekurangan) dengan cara menambah utang. Hmm.., berpotensi untuk ‘gali lubang tutup lubang’, awas hati-hati jika kebesaran lubangnya akan mudah untuk terjerumus!. Utang tersebut biasanya didapat dari Kartu Kredit, Kredit Tanpa Agunan (KTA) atau dengan jenis utang yang lain. Cara tersebut sangat berbahaya dan tidak dapat dibenarkan.

Saya katakan bahwa kondisi dan kebiasan ini wajib dihentikan, stop sesegera mungkin. Saran saya adalah sebaiknya pada kondisi ini segera minta bantuan dana, ingat bantuan dan bukan pinjaman untuk jangka waktu yang pendek. Atau usahakan untuk melakukan pinjaman lunak jangka panjang, kelak akan dikembalikan jika telah ada kemampuan.

Jaminan pinjaman tersebut apa? jika ada properti bisa dilakukan jaminan namun jika tidak ada apapun maka satu-satunya cara adalah jaminan pribadi (diri sendiri), ini bisa dilakukan dengan menghubungi dari relasi ataupun keluarga yang sangat dekat.

Nah kiat anda pun harus jelas, dalam waktu bersamaan sebelum anda meminjam atau meminta bantuan, anda juga harus mencari solusi dengan tujuan agar terjadi peningkatan income hal itu dapat dilakukan dengan cara:

a) Walaupun anda masih bekerja, anda wajib untuk mencari pemasukan tambahan (melalui usaha dengan modal pinjaman kepada relasi atau keluarga terdekat tersebut) lakukan studi kelayakan yang akurat dan objektif agar potensi keberhasilan usaha anda menjadi lebih besar dari kemungkinan gagalnya;

b) Berupaya agar gaji bertambah dengan cara pindah bekerja atau melakukan kerja yang lebih giat lagi (utamanya bagi tenaga penjual atau salesman) sehingga komisi atau bonus bertambah;

c) Menekan pengeluaran rutin (melakukan efisiensi) dengan ketat;

d) Jangan lupa melakukan manajemen resiko melalui asuransi jiwa dengan memiliki Uang Pertanggungan yang cukup untuk mengembalikan pinjaman tersebut (ingat kematian pasti akan datang, namun tidak diketahui waktunya);

e) Sebagai masukan adalah asuransi jiwa tipe YRT (Yearly Renewable Term) bukan yang lain, sebagai contoh seorang pria tidak merokok usia 35 tahun, uang pertanggungan Rp 500 juta, kisaran premi pada asuransi YRT per tahun adalah sebesar Rp 1,5 juta hingga Rp 1,75 juta.

Selanjutnya, anda wajib mengubah menuju tahapan yang wajar, berikut penjelasannya:

Tahapan yang wajar (Fair Income Valuation): adalah kondisi dimana anda tidak defisit, besar cicilan utang masih berada diatas 30 persen dari pendapatan, namun yang bersangkutan mampu untuk melakukan investasi demi kesejahteraan dia dan keluarganya kelak, porsi investasi minimal adalah sebesar 10 persen dari penghasilan. Kemudian adalah bagaimana kita mengubah dari kondisi yang buruk (poor income valuation) menjadi kondisi yang wajar (fair income valuation), nah untuk kasus diatas berapa besar income yang wajar tersebut?, berikut adalah formulasi valuasi penghasilan wajar, yakni:

Total pengeluaran dalam kondisi defisit / 90 persen

Mengapa pembagi harus 90 persen? Hal ini disebabkan karena untuk mencapai zona kebebasan finansial atau anda menjadi lebih kaya maka wajib menyisihkan penghasilan minimal 10 persen dan ditempatkan pada investasi yang tepat serta yang bersangkutan juga harus menjaga cicilan utang terus menurun hingga makin mendekati batasan maksimal 30 persen dari pendapatan anda.

Sehingga contoh kasus (tabel 1 diatas) penghasilan menjadi Rp 10.277.777. Atau untuk jelasnya silahkan perhatikan tabel berikut

Tabel 2:

Valuasi Penghasilan Wajar (saat nanti)
Besarnya
Bobot VS Pendapatan
7
Pendapatan Bersih Wajar
Rp 10,277,777
100.00%
8
Dana yg di Investasikan (wajib)
Rp 1,027,778
10.00%
9
Pengeluaran (diluar cicilan utang)
Rp 5,000,000
48.65%
10
Cicilan utang
Rp 4,250,000
41.35%
11
Total pengeluaran = 8+9+10
Rp 10,277,778
100.00%
12
Surplus (defisit) pengeluaran = 7 – 11
Rp (0)
0.00%
13
Surplus (defisit) cicilan utang = (7*30%) – 10
Rp (1,166,667)
-11.35%

Analisa: dari tabel terlihat bahwa defisit sudah nol dan cicilan utang menurun dari bobot terhadap penghasilan dari 45,95 persen menjadi 41,35 persen. Kondisi ini sudah lebih baik walau belum menjadi tahapan yang ideal (Ideal Income Valuation).

Tahapan terakhir adalah Tahapan yang ideal (Ideal Income Valuation): pada tahapan ini individu/keluarga tersebut sudah berada pada koridor keuangan yang sehat, yakni sesuai tabel:

Tabel 3:

Valuasi Penghasilan Ideal (saat nanti)
Besarnya
Bobot VS Pendapatan
14
Pendapatan Bersih Ideal
Rp 19,166,667
100.00%
15
Dana yg di Investasikan (wajib)
Rp 1,916,667
10.00%
16
Pengeluaran (diluar cicilan hutang)
Rp 5,000,000
26.09%
17
Cicilan hutang
Rp 4,250,000
22.17%
18
Total pengeluaran = 15+16+17
Rp 11,166,667
58.26%
19
Surplus (defisit) pengeluaran = 14 - 18
Rp 8,000,000
41.74%
20
Surplus (defisit) cicilan hutang = (14*30%) - 17
Rp 1,500,000
7,83%
21
Dana yang di Investasikan (tambahan)
Rp 8,000,000
41.74%

Adapun formulasi Valuasi Penghasilan Ideal adalah:

Cicilan utang perbulan/30 persen + Pengeluaran (di luar cicilan utang)
Analisa: terlihat bahwa bobot cicilan hutang telah mencapai kurang dari 30 persen yaitu 22,17 persen serta terjadi surplus pendapatan sebesar 41,74 persen dan ada kelebihan dana yang dapat ditambahkan untuk investasi sebesar Rp 8.000.000 atau 41,74 persen.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana saya mendapatkan tambahan penghasilan tersebut?, jawabannya sudah tertera pada artikel ini yaitu berupa kiat anda sebelum meminjam atau meminta bantuan dana (butir a hingga e). Hal ini memang tidak mudah namun setidaknya juga bukan sesuatu yang mustahil. Setidaknya anda sudah mengetahui batasan penghasilan yang sehat sesuai dengan kondisi anda.

Pada contoh kasus ini penghasilan yang defisit sebesar Rp 8.000.000,- harus diperbesar menjadi surplus dalam kisaran Rp 10.277.777 hingga Rp 19.166.167 agar yang bersangkutan dapat menjadi bertambah kaya di kemudian hari.

Sekedar informasi penghasilan dan cicilan utang yang dimaksud disini adalah dapat merupakan penghasilan dan cicilan uutang gabungan (suami & istri).

Namun sebaliknya secara realistis kita harus siap dan wajib melakukan 'pengetatan super ekstra' terhadap pengeluaran jika proyeksi untuk mendapatkan penghasilan tambahan belum nampak, walaupun dana bantuan telah tersedia. (Taufik Gumulya, CFP®/Independent Financial Planner, CEO TGRM Financial Planning Services)

Bagaimana Menuju Kebebasan Finansial?

KOMPAS.com - Siapa yang tidak pernah mendengar tentang kebebasan keuangan? Tentu anda semua pasti sudah sering mendengar istilah tersebut. Dan kebanyakan orang yang bekerja pasti mengidam-idamkan agar bisa mencapai kebebasan keuangan. Tapi apakah yang benar-benar dimaksud dengan kebebasan keuangan?

Kebebasan keuangan adalah dimana seseorangan mencapai saving cukup banyak dan relatif aman, dan hasilnya mencukupi kebutuhan-nya untuk hidup dengan gaya hidup yang diinginkan. Kebebasan finansial juga dapat dapat didefinisikan sebagai fase ketika kita berada dalam ketenangan dan pilihan untuk tidak bekerja lagi demi uang, karena uanglah yang bekerja untuk kita (passive income). Yang dimaksud dengan passive income disini adalah uang yang masuk tanpa harus kita bekerja.

Saving bisa dicapai dengan berbagai cara, misalnya dengan tabungan, deposito, namun untuk mendapatkan hasil yang lebih baik yakni diatas nilai inflasi maka saving wajib di kombinasikan dengan investing seperti pada reksa dana, saham, properti, dll.

Adapun pendapatan yang didapat dari active income adalah penghasilan yang didapat karena bekerja lalu dibayar atau mendapat upah dan kalau tidak bekerja tidak akan mendapatkan penghasilan. Sekedar catatan kalau kita bekerja sebagai karyawan umumnya kenaikan gaji (income) yang didapat berada dibawah tingkat inflasi, sehingga daya beli menjadi menurun sejalan dengan bertambahnya waktu. Untuk mengatasi kondisi tersebut maka alangkah bijaknya jika kita memiliki orientasi pertumbuhan aset dalam bekerja.

Jika tidak maka kita berpotensi untuk bekerja secara terus menerus, berikut perbedaan orientasi bekerja adalah:
1. Bekerja => active income output => lifetime work;
2. Bekerja => asset => passive income output => financial freedom.

Agar fase kebebasan keuangan tercapai, tentu harus dilakukan aktifitas saving & investing, yakni:
a. Saving & investing = Consumption
Ini adalah kondisi ideal dimana tabungan & investasi berada dalam jumlah yang seimbang dengan pengeluaran, artinya income yang diterima hanya 50 persen yang digunakan untuk konsumsi, sedangkan sisanya untuk tabungan dan investasi. Biasanya pola ini cocok untuk anak muda yang belum menikah dimana kewajiban (liability) / utang belum ada. Untuk mencapainya memang kita harus bekerja dengan cerdas, bagaimana uang kita dapat bekerja keras untuk kita dan menghasilkan passive income.

b. Saving & investing = Consumption - Debt
Pada pola ini tabungan dan investasi lebih sedikit dikarenakan adanya kewajiban utang (debt), pada kondisi ini memang dibawah ideal namun masih wajar. Biasanya tahap ini terjadi bagi mereka yang sudah berkeluarga. Perkembangan zaman dan industri keuangan, mendorong tumbuhnya instrumen utang, hal ini menyebabkan pemakaian dan upaya untuk mendapatkan utangpun menjadi lebih mudah. Sekarang semakin banyak ditemukan konsumsi berbasis utang (kartu kredit, KTA atau kredit tanpa agunan dan lain-lain).

Karena itu, hanya menjaga keseimbangan antara saving, invesment & consumption saja tidak cukup, tetapi harus ditambah dengan menyiasati agar kita bisa terbebas dari utang. Utang adalah pembunuh kebebasan primer. Ingin kebebasan finansial? Hal pertama yang harus anda lakukan adalah keluar dari utang. Itu adalah prioritas nomor satu.

c. Saving & investing = Consumption - Debt + Protection
Pola ini merupakan yang paling bijak bagi mereka yang telah berkeluarga dan memiliki anak, meskipun tabungan dan investasi tidak sebesar tahap sebelumnya namun penyebabnya adalah alokasi dana untuk proteksi (manajemen resiko) biasanya dalam bentuk premi asuransi.

Sejalan dengan berkembanganya industri asuransi dan peningkatan dana pendidikan tentu juga mempengaruhi kebebasan finansial. Karena kita harus memenuhi unsur proteksi untuk diri sendiri maupun keluarga dalam bentuk asuransi maupun investasi dana pendidikan.

Ada beberapa tahap sebelum mencapai kebebasan finansial (financial freedom), yakni:
1. Financial Protection yaitu suatu kondisi keuangan dimana kita mempunyai cukup uang untuk memenuhi pengeluaran bulanan minimum, untuk 2 bulan sampai 24 bulan tanpa harus bekerja.
2. Financial Security yaitu suatu kondisi keuangan dimana kita mempunyai investasi cukup banyak yang relatif aman, dan hasilnya dapat mencukupi kebutuhan diatas minimum tanpa harus bekerja lagi, kecuali bila kita memilih untuk bekerja.
3. Financial Vitality yaitu suatu kondisi keuangan dimana kita mencapai investasi cukup banyak yang relatif aman, dan hasilnya tidak hanya bisa mencukupi kebutuhan pada tingkat Financial Security (di atas minimum) melainkan juga bisa mencukupi kebutuhan sekunder tanpa harus bekerja, kecuali bila kita memilih untuk bekerja.
4. Financial Independence yaitu suatu kondisi keuangan dimana kita mencapai investasi cukup banyak yang relatif aman, dan hasilnya mencukupi kebutuhan kita untuk hidup persis dengan gaya hidup kita yang sekarang. Dengan kata lain kita bebas tidak bekerja.
5. Financial Freedom yaitu suatu kondisi keuangan dimana kita mencapai investasi cukup banyak yang relatif aman, dan hasilnya mencukupi kebutuhan kita untuk hidup dengan gaya hidup yang kita inginkan (lebih baik dari gaya hidup sekarang).

Sudah sampai tahap manakah anda?

Faktor penting lainnya dalam mencapai kebebasan finansial untuk anda adalah sangat ditentukan oleh gaya hidup anda saat ini, esok dan masa depan. Sebagian orang lebih suka hidup sederhana, dan akan selalu ingin hidup seperti itu, maka tipe seperti ini akan mencapai tingkat kebebasan keuangan lebih cepat dari pada mereka yang memiliki pola hidup mewah. Pada akhirnya, kebebasan finansial adalah tentang kontrol pengeluaran terhadap diri kita sendiri. Kebebasan finansial adalah sebuah pilihan bukan kebetulan. (Prilla Kinanti/Associate Financial Planner, TGRM Financial Planning Services)

Bebas dari Cengkeraman Utang

SHUTTERSTOCK Ilustrasi

KOMPAS.com - Masih ingat 10 pernyataan di artikel saya sebelumnya (Utang, Bermanfaat atau mencelakakan?”, Kompas.com, 31 Mei 2011)?, yang jika minimal ada 4 saja yang cocok atau sesuai dengan perilaku Anda saat ini, maka Anda sudah berada dalam masalah keuangan?

Apa sebetulnya masalah keuangan yang dimaksud? Bisa jadi kita sedang tidak sadar bahwa utang semakin menumpuk, karena kehilangan daya beli membuat kita harus melakukan beberapa perilaku dari 10 pernyataan itu.

Atau bahkan Anda sudah masuk lingkaran “setan” yang namanya terjerat cengkeraman utang? Tentunya tekanan psikologis pun sangat tinggi dirasakan. Tidak jarang kita mendapati berita orang berfikir pendek sampai bunuh diri gara-gara terjerat cengkeraman utang. Ngeri juga hantu blau yang namanya Cengkeraman Utang ini ya?.

Para pembaca yang budiman, terjerat cengkeraman utang bukanlah akhir dari segalanya. Selama kita punya kemauan untuk terbebas dari cengkeraman utang, yakinlah Sang Maha Pencipta akan memberi petunjuk dan kemudahan.

1. Merubah Gaya Hidup Finansial
Kendala terbesar dalam rangka tekad kita terbebas dari cengkeraman utang adalah merubah gaya hidup finansial kita. Gaya hidup finansial adalah dinamisasi hubungan antara pendapatan (income) dan bagaimana kita memanfaatkannya (spending). Perlu disadari bahwa gaya hidup finansial kita selama ini telah membawa kita terjebak dalam cengkeraman utang. Jadi milikilah tekad untuk mengubah gaya hidup. Mulailah dengan mengenali betul, apakah pola belanja kita selama ini lebih kepada memenuhi keinginan kita?

Prihatinlah dulu untuk lebih memenuhi kebutuhan kita ketimbang keinginan kita. Paling tidak sampai kita terbebas dari cengkeraman utang ini kelak. Buatlah rencana perubahan gaya hidup finansial yang fokus pada efisiensi anggaran bulanan. Saya sarankan untuk dibuat secara tertulis.

2. Mengenali Struktur utang saat ini
Untuk mendapatkan solusi masalah secara optimal, syarat utamanya adalah kita harus tahu persis masalah yang dihadapi. Berapa jumlah utang yang masih tertunggak? Berapa beban bulanan yang harus tersedia untuk menyelesaikan utang-utang tersebut. Susunlah secara tertulis dan buat daftar prioritas dari jumlah utang yang terkecil.

3. Identifikasi kemampuan saat ini
Dari hasil tekad merubah gaya hidup finansial, kita tahu berapa kemampuan kita menyisihkan pendapatan kita untuk dialokasikan pada rencana pelunasan beban utang kita. Sehingga kita dapat menghitung berapa jumlah kekurangan dana untuk memenuhi kebutuhan minimum beban bulanannya. Bila sampai langkah ini, ternyata hasilnya kita sudah mampu membayar kebutuhan minimum beban hutang kita. Segera lakukan tindakan sesuai rencana dengan disiplin.Perlu diingat, bahwa menyisihkan pendapatan adalah kegiatan yang harus dilakukan lebih dulu sebelum kita memanfaatkannya lebih lanjut. Bila masih defisit, lanjutkan langkah berikutnya.

4. Negosiasi ulang dengan Pemberi Utang
Selalu ada jalan untuk meringankan beban utang kita melalui pendekatan dengan pihak pemberi pinjaman. Bicarakanlah kesulitan yang kita hadapi dan negosiasikan skema terbaik yang bisa diberikan pihak pemberi utang sebagai solusi, baik dari sisi penjadwalan ulang waktu pelunasan hingga pertimbangan kembali pembebanan bunga. Bila hasil negosiasi ini belum dapat memenuhi kebutuhan rencana pelunasan utang, kita bisa mencoba langkah selanjutnya.

5. Memanfaatkan aset yang ada
Jika kita masih memiliki aset, jalan termudah dalam memanfaatkan aset untuk mengurangi atau melunasi beban utang kita adalah dengan menjualnya. Namun sebagai konsekuensinya, kita kehilangan manfaat dari aset tersebut. Ada baiknya kita mempertimbangkan untuk memanfaatkan aset tersebut sebagai jaminan/agunan untuk utang baru. Sebagai catatan, dana yang bisa dihasilkan harus bisa melunasi seluruh utang kita atau paling tidak sebagian besar (minimal 80 persen dari total beban utang).

Carilah skema utang baru yang memberikan peluang waktu pengembalian yang cukup panjang dan tingkat suku bunga serendah-rendahya untuk mendapatkan jumlah pinjaman yang cukup besar, dengan beban cicilan yang ringan. Langkah ini biasa disebut pengambil alihan utang (Debt Take Over). Bila tidak bisa secara langsung, saat ini ada pihak ketiga yang bisa membantu dan bertindak atas nama kita. Pihak ketiga ini yang akan berhadapan dengan bank (atau institusi finansial lainnya). Tentu saja ada fee yang harus dibayarkan atas jasa pengurusan ini.

6. Mencari pinjaman “LUNAK”
Mengingat masalah finansial cukup sensitif dan bersifat pribadi, langkah ini bisa dijadikan alternative terakhir. Pinjaman “LUNAK” yang dimaksud adalah dengan meminjam sejumlah uang kepada keluarga atau kerabat terdekat kita. Ajukan jangka waktu yang cukup panjang dan cicilan tanpa bunga. Bicara apa adanya kesulitan yang dihadapi. Berkomitmen penuh untuk menepati pelunasan yang kita janjikan. Mohon diingat, tali silaturahmi jauh lebih penting daripada uang.

7. Mempertahankan dan Mengembangkan Gaya Hidup Finansial yang Baru
Kita jangan cepat puas pada saat sasaran kita untuk bebas dari cengkeraman utang tercapai. (kalau sudah mampu membayar cicilan utang tepat waktu berarti kita sudah bebas dari cengkeraman bukan?). Lanjutkan gaya hidup yang sudah lebih baik ini untuk mencapai sasaran-sasaran finansial kita berikutnya. Tingkatkanlah nilai yang bisa disisihkan sesuai kemampuan. Kita akan terkagum-kagum akan kekuatan menyisihkan pendapatan diawal ini. Boleh jadi di suatu saat kelak, kita terkaget-kaget mendapati kemampuan finansial yang kita miliki.

Masih ada potensi untuk mengembangkan kemampuan finansial yang kita miliki, yakni dengan menggali lagi kemampuan kita untuk mendapatkan pendapatan lebih (pendapatan tambahan). Teruslah menggali potensi ini sesuai minat yang kita miliki. Kita bukan hanya akan terbebas dari cengkeraman utang, bahkan akan mampu mengejar cita-cita finansial kita. Semoga bermanfaat. (Budi Cahyadi, MM, CFP®/Financial Planner, TGRM Financial Planning Services)

Monday, November 7, 2011

Pendapatan Defisit, Bisakah Investasi?


SHUTTERSTOCK.COM Ilustrasi

KOMPAS.com - Dalam kondisi apapun setiap insan manusia diwajibkan untuk melakukan investasi dengan tujuan agar kita dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan gaya hidup hari ini serta esok, dan juga agar kita dapat mencapai tujuan keuangan dimasa mendatang. Dengan kata lain investasi adalah wajib bagi mereka yang tidak ingin daya beli menjadi berkurang dikemudian hari.

Permasalahannya adalah:
1. Apakah kita memiliki porsi uang yang cukup untuk melakukan investasi?
2. Bagaimana jika dalam kenyataannya kita tidak memiliki porsi invenstasi?, atau bahkan
3. Kita cenderung mengalami defisit (kekurangan) uang?

Untuk masalah yang pertama solusi yang bijak adalah melakukan efisiensi pengeluaran, lakukanlah dengan target minimal sebesar 10 persen dari pengeluaran. Efisiensi yang dimaksud adalah melakukan penjadwalan ulang pengeluaran yang bersifat kenyamanan. Efisiensi ini dilakukan semaksimal mungkin misalkan dari pemakaian mobil setiap hari dirubah menjadi setiap 2 hari sekali. Perubahan tersebut dialihkan dengan menggunakan sarana transportasi umum masal atau menggunakan motor bahkan menggunakan sepeda untuk bekerja misalnya, mengapa tidak?. Ingat tujuan investasi adalah menunda kenikmatan dan kenyamanan saat ini (bukan meniadakan) namun mendapatkan hasil yang jauh lebih besar dikemudian hari.

Untuk masalah yang kedua jawabannya adalah sama dengan masalah yang pertama namun tentunya masih harus ditambah dengan pengorbanan lebih untuk memotong besarnya pengeluaran agar dapat terpangkas lebih signifikan, pelaksanaannya memang harus dilakukan dengan ekstra ketat, dan tentunya dengan pengorbanan. Misalkan penggunaan mobil ditekan menjadi hanya digunakan saat akhir pekan, selebihnya menggunakan sarana transportasi masal. Pemakaian listrik dihemat secara maksimal, AC rumah (jika ada) hanya digunakan secara terbatas pada jam tertentu, demikian juga dengan pemakaian pompa air dan lain sebagainya.

Pola pikirpun wajib untuk kita ubah dengan ‘hanya’ menganggap bahwa pemasukan kita sebesar 90 persen dari total dana yang diterima setiap bulannya. Target pengeluaran adalah sebesar maksimal 90 persen jadi sisa 10 persen merupakan nilai yang harus kita bayar sebagai apresiasi untuk kepentingan masa depan diri sendiri maupun keluarga tercinta. Marilah kita kembali pada filosofi investasi adalah menikmati keinginan yang maksimal dimasa mendatang.

Permasalahan yang ketiga adalah merupakan yang terberat dari 2 kasus sebelumnya, jawabannya adalah sama seperti pada kasus yang kedua namun juga harus ditambah untuk melihat ada tidaknya aset produktif yang dapat di optimalkan (dilihat dari sisi ekonomis). Dalam hal melihat ada tidaknya aset yang dapat dioptimal secara finansial maka kita harus berpikir secara jernih agar tindakan yang diambil sungguh-sungguh dapat memenuhi kebutuhan kita untuk melakukan investasi. Ingatlah sasaran kita saat ini adalah melakukan investasi.

Selanjutnya setelah anda melakukan evaluasi dan ternyata masih memiliki aset yang dapat ‘diberdayakan secara ekonomi’ maka jangan buang waktu terlalu lama untuk melakukannya, segera bertindak (action). Misalkan anda memiliki rumah dengan lokasi strategis, dekat dengan terminal bus, stasiun kereta atau berdekatan dengan pusat bisnis maka anda dapat melakukan bisnis di sektor riil yakni dengan membuka tempat kost yang terintegrasi dengan warung penjual kebutuhan sehari-hari (semacam mini market misalnya). Dalam hal ini anda mulai melakukan bisnis atau usaha di sektor riil maka kemampuan mengelola atau manajemen bisnis tersebut menjadi kunci utama.

Namun jika tidak memiliki rumah maka apakah anda harus berdiam? Jawabannya adalah tidak! Anda mungkin masih memiliki mobil atau motor, optimalkanlah. Sewakan aset bergerak anda, dapatkan income darinya hitung biaya perawatan dan segala resikonya secara benar dan akurat. Intinya adalah anda berusaha untuk tidak menambah defisit tetapi menguranginya sehingga defisit terkikis hingga habis.

Pertanyaan selanjutnya darimana uang yang saya pakai untuk modal? Lho kondisi saya defisit, bagaimana mungkin? Ubah pola pikir anda! Anda tidak sendiri banyak orang yang kondisinya jauh lebih buruk dari anda namun tetap berhasil. Gunakan sarana pinjaman dari bank, sebagai contoh jika anda ingin membangun tempat kost dan mini market, jaminkan properti anda, ambil kredit usaha dengan hitungan bunga maksimal sebesar bunga KPR. Langkah ini merupakan leverage atau pengungkit pertumbuhan aset pribadi anda.

Setelah usaha mulai bergulir maka hasil usaha anda gunakan secara optimal, sekali lagi wajib untuk menggunakan secara optimal dengan cara membagi sebagian hasil tersebut untuk melakukan usaha di sector finansial, misalkan anda membeli reksa dana atau mencicil membeli emas. Sampai titik ini anda sudah mulai membangun ‘portfolio investasi’ yakni akumulasi dari investasi anda disektor riil dan finansial. Artinya anda sudah mulai melakukan diversifikasi usaha. Dengan demikian maka faktor resiko gagal usaha anda pun menjadi berkurang dan ini berarti potensi penambahan aset anda pun menjadi bertambah.

Kemudian pembaca yang bijak, bagaimana kita dapat melakukan investasi di sektor finansial secara benar? Nantikan artikel dari kami selanjutnya yang akan membahas mengenai investasi disektor finansial. Demikian pembaca jika kiat tersebut dilakukan dengan benar secara konsisten maka berpotensi untuk menjadi orang yang bertambah kaya dengan cara melakukan kombinasi investasi di sektor riil dan fianansial. (Taufik Gumulya, CFP® Perencana Keuangan pada TGRM Financial Planning Services)

Pasar Fluktuatif, Investor Amankan Portofolio


Shutterstock Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Hasil KTT G20 tidak banyak menghasilkan keputusan konkret. Investor global cenderung memilih sikap menunggu kepastian baru atas Eropa. Mereka banyak yang mengamankan posisi portofolio mereka di tengah ketidakpastian.

Menurut catatan riset Indosurya Securities, kemarin belum pastinya pergantian pemerintahan Yunani serta nasib keuangan Italia membuat laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertahan seperti yang di perkirakan sebelumnya. Investor banyak mengamankan posisi menghadapi situasi yang makin tidak pasti.

Rilis PDB selama triwulan ketiga 2011 yang mencapai 6,5 persen (YoY) di mana didorong oleh sektor perdagangan, bisa sedikit menahan penurunan.Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.791,82 (level tertingginya) di awal sesi 2 dan juga sempat menyentuh level 3.765,24 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.778,24. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat turun.

Pada perdagangan Selasa (8/11/2011) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.751-3.765 dan resistance 3.791-3.805. IHSG membentuk black spinning sekaligus membentuk pola bearish harami.

Posisi di antara upper dan middle bollinger bands. MACD tertahan pelemahannya dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic masih tertahan menuju area jenuh beli.

Fluktuasi IHSG sepertinya akan kembali terjadi di tengah situasi yang belum pasti namun, menghijaunya bursa saham AS semalam setidaknya bisa mempertahankan posisi IHSG untuk tetap berada di zona hijau.

Mattress Firm sees IPO priced at $17-$19/share

one of the effort that can be done by the owner of the company is to go public. By going public paar owners will get funds from the public through stock offerings in the capital market. The first Offer was called as an initial public offering is usually a benchmark for how high the value of the company in the eyes of the public.

(Reuters) - Mattress Firm Holding Corp filed with U.S. regulators to sell 5.56 million common shares at an anticipated price of $17-$19 apiece in an initial public offering.

The specialty bedding retailer had filed with the U.S. Securities and Exchange Commission in June to raise up to $115 million in the initial public offering.

Barclays Capital, UBS Investment Bank, and William Blair are underwriting the IPO.

The company, which along with its franchisees operates more than 680 stores in 23 states, plans to list its shares on Nasdaq under the symbol "MFRM" and will use proceeds from the offering to repay debt.

The U.S. IPO market saw a lull for about two months, with a huge backlog of companies that filed to go public earlier this year, and only in recent weeks has been showing signs of recovery.

(Reporting by Eileen Anupa Soreng in Bangalore; Editing by Viraj Nair)